0 Menguji Kesabaran di Pendakian Gunung Kerinci



Siapa yang tidak kenal gunung Kerinci, yap gunung berapi paling tinggi di Indonesia ini akhirnya saya kunjungi di pertengahan September 2017 lalu. Kerinci terletak di provinsi Jambi, tepatnya di desa kayu Aro, kersik tuo. Ini post pertama saya tentang gunung di blog, semoga berfaedah.

Mendaki gunung Kerinci adalah salah satu bucket list saya, yang akhirnya bisa terwujud di tahun ini. Saya sering mendaki gunung di weekend, namun kali ini spesial. Saya akan cuti lama untuk mendaki gunung primadona ini. Perjalanan kali ini kami berangkat bertujuh; saya, ranggita, hadi, rizka, bang ape, reza, dan reyza (pake y. Penting kan. )


Tanggal 16 september 2017 pagi hari kami berangkat ke padang dari cengkareng. Perjalanan udara kami tempuh 1.5 jam. Pukul 7.30 pagi kami sudah sampai di bandara minangkabau Padang. Mengapa tidak menggunakan pesawat ke jambi? Karena lebih dekat dari bandara padang. Jaraknya 8 jam saja dari bandara padang. Sedangkan jika dari bandara jambi, bisa sampai 15 jaman. Saat itu kami ber 6 menunggu dijemput travel. Reza menyusul dikarenakan beda jadwal pesawat.

Jam 8 pas, kami berangkat dari bandara ke kersik tuo. Mobil kami apv. Untuk kami ber 6 yang masing-masing membawa keril besar, mobil tersebut cukup padat. Namun masih nyaman untuk perjalanan 8 jam kedepan. Biaya 1 apv ini dari padang ke kersik tuo adalah 800 ribu. 

Jam 5 sore kami sampai di kersik tuo. Kami langsung menuju homestay yang sudah kami booking sebelumnya. Namanya homestay paiman. 5 menit jalan kaki dari tugu harimau. Homestay ini cozy banget. View gunung kerinci dari homestay ini bikin mata ngga bosan-bosanya nongkrong ke jendela. Sore hingga malam kami bertemu dengan porter kami, bang odie lalu segera mempersiapkan logistik dan brief kecil mengenai perjalanan besok. Pack barang yang dibutuhkan, barang yang tidak perlu di bawa bisa dititipkan di homestay.

Pukul 5 subuh saya bangun (dibangunkan tepatnya.he) untuk solat subuh dan segera bersiap. Mengapa sepagi mungkin? Salah satu faktornya adalah agar sampai tempat camp tidak terlalu malam, karena ada 1 cewek di rombongan ini. Yaitu saya.. Ya spare waktu buat saya ambil nafas. Nggak seperti abang-abang lain yang nafas kijang. Haha.

Pukul 6 kami sarapan dan 6.30 loading barang ke mobil angkutan. Mobil kijang ini yang akan mengantar kita dari homestay ke pintu rimba. Perjalanan dari homestay ke pintu rimba ditempuh dengan waktu 15 menitan. Jalanan tersebut sebagian besar berbatu dan tanah. Sebelum pintu rimba, ada pos untuk mendaftar simaksi. Pukul 8 tepat kami mulai mendaki. Pendakian ini kami berangkat 9 orang. Kami bertujuh ditambah bang odie sebagai guide dan porter plus keponakan bang odie, angga yang masih SMA ikut juga.

Urutan pendakian di gunung kerinci ini adalah pintu rimba, pos 1, pos 2, pos 3, shelter 1, shelter 2, shelter 3, tugu yudha, dan terakhir puncak indrapura. Untuk camp terakhir, maksimal adalah shelter 3. Karena setelah shelter 3, kebanyakan adalah tanah terbuka, terjal, dan berbatu. Sedangkan tugu yudha sendiri adalah area datar cukup luas yang berbatu diantara shelter 3 dan puncak indrapura.

Di pintu rimba kami berfoto bersama, lalu mulai bergerak mendaki. Sebelum pos 1 kami bertemu (sepertinya) fotografer mancanegara bersama guide dan porternya yang sedang hunting foto burung. Saat kami mendekat, terkadang burung terkaget dan pergi, dibarengi dengan wajah kecewa si fotografer. Karena tidak ingin mengganggu sesi foto tersebut, kami melangkah mengendap-endap. Lucu sekali... Saat berpapasan dengan si fotografer, salah satu dari kami bertanya, "hunting burung apa pak?", namun tidak ada jawaban dari dia, dan hanya fokus menatap burung di atas. "dia ga bisa bahasa indo mas..", saut seorang guidenya. Owalah... Langsung saja saat itu kita percepat langkah agar menjauhi area huntingnya.


Sampai di pos 1 pukul 9. 1 jam perjalanan dari pintu rimba. Bagi saya yang seorang perempuan sendiri, perjalanan ke pos satu masih dapat mengimbangi mereka para cowok-cowok. Kami beristirahat di pos 1 sekitar 5 menit. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke pos 2. Sampai di pos 2 pukul 10. Di sini saya sudah mulai ketinggalan rombongan. Namun kalau saya prinsipnya, saya ditinggal tidak apa2, asal setiap pos tunggu saya muncul dulu baru mereka bisa berangkat duluan lagi. Karena ritme mendaki tiap orang pasti berbeda. Saya tipe yang tidak butuh istirahat lama di tiap pos. Cukup berdiri diam sejenak, 1 menit, lalu berangkat lagi. Jadi setiap pos, saya selaly datang paling lambat, namun berangkat paling duluan (agar jika di susul, jaraknya tidak terlalu jauh).


Kami sampai di pos 3 pukul 10.30. Menurut sang porter rombongan kami termasuk cukup cepat, dalam 2.5 jam sudah sampai pos 3. Tidak istirahat lama2 lagi, kami mepanjutkan perjalanan ke shelter 1. Jarak dari pos 3 ke shelter 1 sekitar 1 jam. Pukul 11.30. Shelter 1 merupakan tempat paling luas menurut saya untuk membuka tenda. Ketinggian sudah mencapai 2400an mdpl, suasana sudah sejuk dan ada pohon besar.

Kami berencana istirahat siang di shelter 1. Buka bekal makanan, sholat, dan persiapan ulang. Kami langsung melahap bekal yang kami persiapkan dari bawah. Inilah nikmatnya naik gunung. Setiap suapnya sungguh nikmat tiada tara. Setelah selesai makan, kami santai sejenak sembari menunggu waktu dhuhur tiba. Pukul 12.30 kami shalat bergantian. Beralaskan matras dan wudhu dengan mata air yang diambilkan oleh bang Odie. Saat akan berangkat mendaki, mulai banyak pendaki-pendaki lain berdatangan. Kebanyakan adalah dari Malaysia dan Singapore. Ya, terkadang saat menanjak, kami bertanya "shelter 2 masih jauh mas?".. "sikit lagi laa.."


Pukul 13.00 perjalanan kami lanjutkan menuju shelter 2. Menurut saya, shelter 1 ke shelter 2 adalah jarak terjauh yang kami tempuh. Saya selalu paling belakang walau jarang berhenti. Treknya sudah mulai terjal. Terkadang sudah harus dibantu teman untuk naik dari satu akar ke akar lainnya. Alhamdulillah walau hujan, curahnya tidak deras. Hanya kabut pecah. Sehingga tidak sampai membuat trek begitu licin, meskipun lumpur sudah mulai melahap sepatu kami. Di shelter 2 bayangan (antara shelter 1 dan shelter 2) kami berhenti lagi untuk beristirahat dan makan snack. Waktu tempuh dari shelter 1 ke shelter 2 bayangan kira-kira 2,5 jam. Di sini matahari sore mulai terlihat. Kabut mulai menghilang. Ketinggian berada di 2900 an Mdpl.

Sudah cukup mengisi energi, kami lanjut ke shelter 2. Sampai shelter 2 pukul 16.00 sore. Jaraknya setengah jam dari shelter bayangan. Karena masih ada tenaga, kami berencana langsung lanjut ke shelter 3. Namun setelah berunding, akhirnya kami membuka tenda di shelter 2. Ada beberapa faktor yang membuat kami camp di shelter 2. Pertama adalah info dari pendaki yang turun, cuaca dari kemarin tidak bersahabat, karena kontur shelter 3 adalah area cukup luas tanpa pohon, ditakutkan, badai akan memporak porandakan tenda kami. Kedua, trek dari shelter 2 ke 3 cukup melelahkan, ditakutkan, baru akan sampai setelah matahari terbenam. Yap, akhirnya kami buka tenda di shelter 2.


Di shelter 2 kira-kira dapat memuat 10 hingga 15 tenda. Kami membuka 3 tenda saling berhapadan lalu memasang flysheet sebagai teras tengah. Kegiatan selanjutnya adalah masak, makan, persiapkan summit, dan leyeh-leyeh. Haha.. Nikmat sekali nge teh dan ngopi sembari melihat lukisan langit saat matahari terbenam. Surga.

Makan malam kami santap bersama. Lalu kami shalat dan main ludo bersama. Haha.

Pukul 3 kami dibangunkan oleh bang hadi. Panggilan bangunnya selalu kami saut. Namun ujung-ujungnya bangun jam 4 juga. Haha. Rencana awal adalah kami berangkat pukul set 4. Mengincar summit jam 6 sudah di puncak. Namun kalau saya tidak ngoyo, karena cewek, asal sampai puncak, sudah cukup. Akhirnya pukul 4.30 pagi kami berangkat. Infonya perjalanan summit adalah 3 jam. Sehingga akan sampai sekitar pukul 7.30 pagi.


5 langkah pertama dari shelter 2 menujiu shelter 3 di pagi hari adalah langkah terberat saya. Menurut saya trek dari shelter 2 ke shelter 3 adalah yang paling menguras tenaga. Jarak Ketinggian tiap tumpuannya sangat tinggi. Kata orang-orang trek jidat ketemu dengkul. Haha... Nafas dan jantung saya dipacu di udara dan oksigen yang cukup tipis. Ditambah treknya yang dasyat. Detak jantung saya selalu terdengar hingga telinga. Hahaha karena jalannya yang sempit dan terjal, saya seringkali membuat antrian teman-teman yang lain. Sehingga jika ada area cukup lebar, saya persilahkan mereka untuk menyusul. Pukul 5.30 kami sampai di shelter 3. Kami beristirahat dan shalat di shelter 3.


Di sana kami bertemu seorang porter lokal yang menyarankan agar kami melihat sunrise dari shelter ini. Menurutnya, kerinci sedang pada cuaca terbaiknya hari itu. Kami pun kegirangan bersyukur menantikan sunrise di shelter 3.


Saya izin pamit duluan berangkat duluan agar tidak terlambat sampai di puncak walau disusul. Dari shelter 3, tugu yudha sudah cukup terlihat. Sudah tidak ada pepohonan tinggi yang menutupi. Cuacanya juga cukup bersih. Sekitar pukul 6an, orang-orang riuh ramai. Ternyata sang surya sudah mulai menampakkan kegagahannya.



Saya bersama teman-teman tidak henti-hentinya menyebut nama Allah dan bersyukur dapat menyaksikan salah satu karyaNya. Sosok matahari yang muncul dari danau gunung tujuh, memberikam siluet ketegasan, dipadu dengan awan tipis yang berhembus halus. Lalu di sisi berlawanan, terlihat guratan pedesaan mulai terlihat diselimuti gulungan selimut awan tipis. What a perfect morning. Di sini kami berhenti cukup lama. Lama sekali malah... Karena pemandangan di belakang kami sunggu-sungguh bikin lupa waktu.


Setelah puas berfoto-foto dan berdecak kagum, kami melanjutkan perjalanan. Menuju tugu yudha, asap belerang dan kabut mulai turun. Angin juga mulai berhembus cukup kencang. Saya merapatkan kupluk jaket saya. Tidak lupa masker yang dibasahi air agar kandungan belerang tidak langsung masuk ke hidung. Terkadang saat kabut putih pekat melintas, para pendaki serempak membalikkan badan atau berlindung di balik batu/tebing kecil. Yang penting ngumpet. "gasnya bisa bikin pingsan ki. Maskernya basahin..!" ujar teman saya dari kejauhan samar-samar. Karena memang jarak pandang tidak sampai 2 meter. Kami merangkak, merayap, menyeret dengkul dari batu ke batu. Tidak karuan. Dibarengi dengan nafas yang sesak karena oksigen cukup tipis dan belerang yang beracun.


 Jarak pandang yang pendek pun menjadi penambah petualangan kami saat summit. Sesekali saya berhenti untuk minum, namun saya muntahkan lagi dikarenakan saya lebih butuh oksigen dari pada menelan air. Ya.. Memang segitunya. Oksigen di sana sangat tipis.  Ada saat-saat dimana tidak ada kandungan area di beberapa spot yang mengakibatkan pendaki seperti tercekik beberapa saat. Seperti saya. Berkali-kali saya menghirup udara, namun tercekat, larena yang saya hirup belerang bukan oksigen.


Saya mulai tertinggal. Sepertinya tidak jauh, namun karena jarak pandang tipis, jadi seperti berjalan sendiri. Dari semua rombonganpun, sepertinya saya yang terakhir. Saya sudah tidak dapat melihat teman saya saat itu, namun kami selalu bersautan menandakan keberadaan kami. Sesekali jika kabut hilang dihembus angin beberapa detik, saya melihat kompas di jam tangan jikalau saya hilang arah ke puncak. Karena kami tidak tau sampai kapan kabut ini akan menyelimuti perjalanan summit kami.

Pukul 8.30 saya sampai di puncak indrapura. Tidak seperti puncak gunung lain, puncak indrapura gunung kerinci memberikan aura tersendiri bagi saya. Sampai di atas cuaca cerah, terlihat jelas guratan gagah gunung kerinci dari atas. Saya terdiam cukup lama. Memang karena takjub, menikmati megahnya alam, dan cukup gemetar untuk jalan. Haha... Karena puncaknya cukup kecil. Tidak sekecil puncak sejati gunung raung, namun lebih sempit daripada puncak gunung slamet. Di atas kami berfoto dan melihat pemandangan. Terkadang jika kabut berhembus, kami tiarap agar tidak kebawa angin. Haha... Karena angin bertiup cukup kencang.



Setengah jam diatas cukup bagi kami untuk menikmati indahnya pemandangan di puncak. Kami segera turun. Sampai di camp, tanpa Babibu, kami tidur untuk mengembalikan energi. Bangun sekitar siang menjelang sore, kami segera makan. Makan paling nikmat. Memang di gunung itu cuma ada 2 rasa makanan. Nikmat dan nikmat banget. Ada pendaki lain yang baru mulai camp. Mereka berdua mendaki setelah kami. Salah satu namanya bang Agus dari kalimantan. Kisah kami sama bang Agus ini sangat lucu. Kami selalu bertemu secara kebetulan di berbagai tempat berbeda. Mulai dari home stay,
pendakian, rest area kerinci-padang, bahkan sampai di kota padang yang begitu luas, setelah selesai pendakian bahkan, kami masih dipertemukan dengan mereka lagi. Haha... "kayak pilem dono aja ketemu mulu.." canda kami. "pamitan mulu yang ada... ", hahaha... Namun kami senang karena menambah teman perjalanan di pendakian-pendakian berikutnya nanti.


Kembali ke pendakian, hari itu kami sepakat untuk camp semalam lagi, baru esok paginya turun. Sore ke malam kami habiskan masak-masak (menghabiskan logistik), ngobrol, main ludo (again), bakar api unggun, dan lain-lain. Saat itu saya baru merasakan yang namanya naik gunung yang hakiki. Halah...

Keesokan harinya pukul 8 kami bersiap untuk turun. Sedangkan tenda bang Agus sudah kosong karena mereka sedang summit. Jam 10 kami start dari shelter 2 menuju shelter 1. Hanya butuh 1 jam, kami sudah sampai di shelter 1. Kami membuka perbekalan terakhir untuk makan siang. Sisa logistik kami habiskan semua. Pesta besar. Tentu saja yang masak koki handal kami, bang odie.

Pukul 12 kami melanjutkan perjalan kembali. Kali ini saya memilih menjadi yang duluan jalan kembali agar jika kesusul tidak terlalu jauh. Alhamdulillah masih bisa menyamai ritme, jadi nggak kesusul-susul. Haha. Pukul 14.00 kami sampai di pintu rimba langsung menuju warung untuk beli gorengan. (teteup).

Total perjalanan kami adalah sebagai berikut:

Naik
Pintu rimba - pos 1= 1 jam
Pos 1 - pos 2 = 1 jam
Pos 2 - pos 3 = 0.5 jam
Pos 3 - shelter 1 = 1 jam
Shelter 1 - shelter 2 = 3 jam
Total naik 6.5 jam (jika tanpa istirahat)

Turun
Shelter 2 - shelter 1 = 1 jam
Shelter 1 - pintu rimba = 2 jam
Total turun 3 jam (jika tanpa istirahat)

Summit 3 jam dari shelter 2 (tanpa istirahat)

Kami dijemput oleh mobil kijang jemputan setelag 1 jam menunggu dikarenakan mobilnya lagi dicuci dulu katanya. Hihi. Perjalanan ke home stay kami lalui dengan perasaan puas dan syukur. Terkadang menengok ke belakang betapa gagahnya gunung Kerinci yang kami lalui kemarin.


Gunung kerinci merupakan gunung yang adem menurut saya. Ya karena kemarin cuacanya tidak sedasyat yang dikhawatirkan orang-orang. Sangat bersyukur atas pendakian ini. Dan terima kasih bang Odie dan Angga. Juga kawan-kan yang bertemu di perjalanan. Semoga bisa bertemu lagi di pendakian berikutnya.

Salam lestari. 
[Read More...]


0 Review GRAVITY 2013 By Alfonso Cuaron. Starring Sandra Bullock and George Clooney





Satu lagi film yang mencengangkang keluar, Gravity. Film garapan Alfonso Cuaron ini langsung dapet rating 8.8 di IMDB di minggu awal keluarnya. Bahkan masuk ke 43 di Top 250 movie all time. Benar-benar membuat penasaran untuk ditonton. 

Gravity bercerita tentang perjuangan seorang astronot yang terdampar di luar angkasa dengan segala rasa putus asa dan ketakutannya. Dr. Ryan Stone adalah seorang medical engineer yang melakukan perjalanan pertamanya ke luar angkasa untuk memperbaiki sebuah alat scanning yang ia rancang di Hubble yang rusak. Dr. Ryan Stone bersama Matt Kowalski, seorang astronot veteran berjuang untuk kembali ke bumi saat pesawat mereka hancur dihantam oleh puing-puing ledakan.


Langsung saja kenapa film ini wajib di tonton:

1.     Sinematografinya bener-bener incredible. James Cameron aja sampai bilang bahwa Gravity adalah film tentang luar angkasa yang paling bagus sepanjang masa. Yang belum nonton, mending pilih yang Imax 3D atau 4DX aja biar lebih nyata. Dijamin worth it. Banyak orang yang bilang “Film gini nih yang seharusnya pantes di 3D-in. Jangan film standar dipaksa 3D”. Dan Cuma film ini doang yang bikin gw harus banget nonton 3D nya.

2.       NASA mengklaim bahwa Gravity adalah film luar angkasa yang paling mendekati kenyataan. Dan memang pas nonton bikin deg-degan terus. Film ini doang yang bikin gw lupa kalau punya pop corn. Haha

3.       Sandra Bullock dan George Clooney. Jangan diragukan lagi. Dua-duanya Academmy Award Winner. Dan kalau bukan mereka yang main, film ini bakal jadi film standar. Soalnya durasi film yang sedikit dan dialog mereka berdua yang juga sedikit, membuat tiap dialog harus bermakna dan ngena ke penonton. Dan menurut gw mereka berdua berhasil melakukan itu. Jujur yang bikin gw cinta sama film ini adalah chemistry antar karakternya. Simple tapi pasti.

4.       Pengambilan gambarnya ga banyak cut nya alias scenenya panjang-panjang. Baru film Gravity ini yang melakukan teknik seperti ini. Ngeh ga kalau di 13 menit awal dari gambar hamparan bumi luas sampai Dr. Ryan Stone terpental ke angkasa nggak ada cut nya?

Tapi tiap film pasti menuai kritikan dan menurut beberapa orang film ini over rated. Ada yang bilang bahwa Gravity ga logis, ga mungkin pesawat ISS, Hubble, dan Tiangong ada di satu line pandang. Atau ga mungkin bisa Dr. Ryan bertemu lagi dengan Matt Kowalski saat Dr. Ryan Stone lepas tali dan menjauh dari Explorer. Semua kritikan itu hanya dibalas santai oleh Cuaron "Ini memang bukan film dokumenter. Ini hanya sepotong film fiksi,". Lagian toh NASA juga hanya bilang bahwa Gravity adalah film yang paling mendekati kenyataan, bukan benar-benar bisa terjadi. Jadi memang semuanya kembali ke selera masing-masing penonton. Karena Gravity ini genrenya memang drama-thriler bukan action.


                                                                                                                                                                
Sedikit di balik pembuatan film:

1. Film ini disaranin ditunda 4 sampai 7 tahun DEMI menunggu teknologi yang memadai untuk merealisasikannya. Dan akhirnya emang sampe 4-5 tahun baru muncul.

2. Untuk take yang 13 menit awal (no cut alias 1 scene ga berhenti-berhenti), ini katanya yang paling susah. Karena mereka harus menggunakan efek vomit comet (istilah perfilman untuk orang yang harus adegan mengambang kyk di inception). nah, kalau di inception itu kan hanya beberapa detik. Kalau disini sampai 13 menit. itu yang sulit.

3. Bahkan sebelum syuting dimulai, mereka harus melakukan pasca produksi dulu. artinya harus tau dan punya wire atau kabel-kabel seperti apa yang digunakan, teknologi, dsb.

4. Saking perfectionisnya Cuaron ini, Sandra bullock sampai diatur detail pergerakan kepalanya. tidak boleh lebih dari 3/4 inch, 1/4 inch, dsb.

Cuaron said, "Kami menggunakan sistem wiring yasng belum pernah digunakan sebelumnya. Karena banyaknya wire, semuanya juga dikomputerisasi dengan sinkron dengan pencahayaan dan gerakan Sandra"

5. Oiya lamanya Gravity ini dibuat yang bikin banyak calon-calon aktor/aktris pemerannya mundur. Yang saat itu diundang untuk memerankannya adalah Angelina Jolie, Natalie Portman, dan Robert Downey Jr. Dan akhirnya sampai ke Sandra dan Clooney.
[Read More...]


0 Character Building Atlet Prima di Markas Kopassus Batujajar (Part 5)





Part 5 (Malam di Situ Lembang)

Kita barbaris di depan barak. Gw lupa di sana ada berapa barak. 4 mungkin ya. Atau 3. Pokonya cewek dan cowok dipisah. Selain barak siswa, ada semacam cotage-cotage kecil gitu. Tempat pelatih sepertinya. Cewek yang baris di belakang gw ada beberapa yang bibirnya udah biru. Dia kedinginan banget. Temen-temennya berusaha menhangatkan dia. Lama berdiri kedinginan, kita di suruh duduk oleh pelatih. Pelatih akan membagi barak dan memberikan beberapa perlengkapan tambahan untuk tinggal di barak. Perlengkapannya kalau tidak salah itu ada sleeping bag, sepasang sarung tangan, dan alas tidur yang seperti tikar tapi terbuat dari semacam karet (sumpah ini gw lupa namana, piss). 


Guyonan-guyonan dilontarkan para pelatih sembari menunggu giliran di panggil untuk mengambil perlengkapan. Candaan mereka udah ga lucu. Well, emang kitanya lagi pada sewot mungkin. Haha.
Dari perjalanan dari tempat ngambil barang di truk tadi, sampai ke barak cukup jauh. Truk di parkir di tempat parkir tempat kita mengambil tas kita. Di sana ada semacam warung kopi gitu. Lumayan kalau malem-malem mau bikin indomi atau pop mie, gumam gw. Tapi medan dari barak ke tempat parkir cukup seram kalau dilewati malam hari. Padang rumput luas, sangat luas. Hingga kalau malam, kita ga tau dimana ujung padang rumputnya. 

Angin mulai berhembus lebih kencang, hari sudah magrib dan hujan agak turun sedikit-sedikit. Setelah mengambil perlengkapan, kami di suruh masuk barak. Ow ow.. sebelumnya gw deskripsikan dulu tampak luar barak. Barak di hutan ini bawahnya memang semen, tapi dinding hingga ke atas semuanya kayu yang di susun. Kayu tipis ya, bukan kayu gelondongan kayak di luar negri. Dan ada beberapa bagian dinding yang bolong. Bukan beberapa ding, tapi kebanyakan. Dalam hati, semoga aja dalemnya agak bener sedikit. Haha, apa mau di kata dalemnya ya gitu. Masuk pintu, ada dipan panjaang di kanan dan dikiri. Nggak ada apa-apa lagi. Sekat pun nggak ada. Nah bebas deh tidur di sebelah mana juga. Panjang baraknya mungkin satu setengah kali panjang lapangan bulu tangkis. Dan yang pasti kamar mandi di luar. 

Kita diperintahkan untuk berkumpul di aula dalam 15 menit. Sontak semuanya kaget, pilih tempat belum, ganti baju belum, buka pdl susahnya minta ampun, ganti baju di sebelah mana, lampu ga nyala-nyala, di lantai becek, pokonya amburadul. Saat itu adalah saat teriweuh selama character building. Akhirnya gw dapet bareng sama anak softball lainnya di deket pintu masuk. Ganti baju, dan ready to go. Cucian, baju bersih, anduk kotor, sleeping bag, semuanya buntel-buntel dulu aja. Yang penting go to the aula…

Aula ini semacam lapang luas, dan diatasnya di kasih atap. Udah gitu doang. Ga ada lampu, ga ada pintu. Gelap dan dingin. Sumber lampu cuman dari senter para pelatih yang lalu lalang. Asli gw ga bisa liat wajah temen se-pleton gw. Dan angin dingin kalau berhembus kenceng banget dari sisi puncak gunung ke bawah. Secara kita tinggal di lereng banget. Kenceng banget sampai bunyi. Serem banget, ditambah kalau lagi berkabut, angin lewat ya berarti kabut lewat. Kayak ada gumpalan asap putih yang ngelewatin kita. Brrr….

Memang apes gelombang 6 ini. Nggak kayak gelombang-gelombang selanjutnya, gelombang 8,9, 10. Karena masih bulan januari, kita kebagian musim dingin, mendung terus, hujan terus. Alhasil malem hari gelapnya minta ampun. Sinar bulannya nyumput-nyumput.


“Baris yang rapih!” teriak pelatih tiba-tiba. “sesuai barisan biasanya!”. Kita buru-buru baris sesuai pleton dan kompi masing-masing. “kalau ngitung anggota pleton ga usah teriak, bahunya aja yang dipegang sama ketuanya. Ketuanya nanti yang hitung sendiri” bisik salah satu pelatih ke pleton gw. Gw ga tau itu pelatih siapa karena wajah temen di depan gw 1 meter aja ga keliatan. Setengah meter keliatanlah, remang-remang dikit tapi.

“kenapa pak?” jawab salah satu dari kami. “soalnya kalau menghitung pakai cara biasa (cara biasa: tiap anggota neriakin angka), kadang suka ada yang ikutan teriak. Misal anggota kalian ada 18, ntar tiba-tiba ada yang teriak 19 kan repot.” Gosh! Sumpah itu bikin bergidik cerita si bapak. “yah, sebenernya kalau lebih nggak papa, kalau ternyata orang yang ke 18 nggak bunyi-bunyi kan lebih repot”, tambah pelatih. Statement terakhir itu bikin kita pengen pegangan tangan. Hahaha. Karena gw tinggi, gw bisa liat semua kepala anggota kelompok gw. Gw suka memastikan lagi kalau anggota kelompok gw itu pas. Hamdallah, ga pernah kurang ataupun lebih.

Di aula kegiatannya adalah pengarahan dan makan malam, lalu sesi push up, sit up, marah-marah dan lainnya sampai hampir jam 11. Akhirnya kita masuk ke barak dengan lelah. Karena sudah jam bebas, banyak yang beres-beres tempat tidurnya, tasnya, ke kamar mandi, mandi (wow banget lah itu yang mandi jam segitu di sini), dan lainnya. Gw sih beres-beres baju dan sikat gigi solat. Kamar mandi mulai ramai. Tiba-tiba pelatih masuk barak. “nanti harus ada yang piket malam, terserah bagaimana ngaturnya. Orang itu harus bangun jagain barak. Jaga di dalem aja”. Wow.. masih aja ada piket malem -_-. “Oiya, nanti saya cek, kalau pelatih dari luar barak ada yang teriak ‘BARET!’ kalian yang piket di dalem harus balas teriak ‘MERAH’. Kalau tidak, kami mengasumsikan di dalam terjadi sesuatu dan akan kami dobrak ke dalam”. --__-- buseet… ngancamnya gitu amat pak. Setelah berunding-runding dengan orang-orang, giliran piket dimulai dari jam 12 malam. Tiap orang jaga 15 menit dimulai dari orang yang deket pintu masuk. Gw itung-itung gw kebagian dari jam 1.45 sampai jam 2. Hmm lumayan lah. Dan jaga piketnya berpasangan dengan orang yang tidur di sebrang kita. Okelah. Lagi paciweuh gitu, tiba-tiba PET!, mati lampu lah.. tapi ini emang mati lampu seriusan. Soalnya di luar juga gelap banget, kamar pelatih juga mati lampunya.

Orang-orang riuh ramai ngedumel. Dan, gw ngeluarin senter gantungan kunci gw yang gw beli di China. Senter kecil ini bentuknya tipis dan kecil sebesar ibu jari doang. Pas gw nyalain di dalam barak yang gelap gulita, jbret.. terang banget brow… setengah barak keliatan semua. Orang-orang lansgung menatap gw gitu dengan kehebohan senter gw. Berasa artis diliatin. Haha. Gw bawa beberapa senter kayak gitu. Rencananya sih mau dijualin di online shop gw. Haha.. tapi karena mendesak, gw pinjemin senter yang gw temuin di tas. Gw biasanya naro senter kayak gitu random di tas mana aja, soalnya emang buat hal kepepet. Jadi dimana aja ada. Gw nemu 2 waktu itu. Dan gw kasih ke orang yang di ujung pintu barak sebelah sana sama ke orang yang lagi nyari celananya ilang ke kolong. Setelah semua keriweuhan beres, tidurlah gw. Di sebelah kiri gw t herna, temen satu tim. Sebelah kanan gw tante ocha, pelatih gw. Jadi yang bakal piket duluan adalah teh herna, gw, lalu tante ocha.

Tidur sembari bergidik, t herna ngebangunin gw “fur.. fur..”. Gw ngebuka mata dan liat jam. Ternyata masih jam setengah 1an kurang lebih. Dia minta gw temenin. Lalu dengan tetep posisi tidur gw iyakan. Mata gw tetep tertutup. Ahaha. Tapi setiap dia nanya, gw selalu jawab. Memastikan gw juga terjaga. Alhasil kebagianlah giliran gw jaga. Gw ga tau harus gimana jaganya. Akhirnya gw duduk. Suasana gelap, anging menggelebus (kosa kata apa ini.haha) dari dinding-dinding yang bolong. Nggak jarang ada angin kenceng lewat dan ngedobrak pintu barak begitu kencangnya. Pintu yang terbuat dari kayu itu kayak udah mau kebuka aja. Padahal udah dikunci. ‘BRAK BRAK!.. Krieet’ sumpah suaranya tuh kayak si pintu udah kebuka ketutup gara-gara angin. Pas gw senter ke pintu yang deket tempat tidur gw, ternyata ketutup ko. Pintu yang di ujung satunya juga sama, bunyi gebrak terus. Pikiran gw tu pintu sebelah sana udah kebuka aja, angin kencengnya sampai dalem barak soalnya. Gw ga berani nyenter ke sana. Pertama jauh, kedua kalau misal bener kebuka, berarti gw harus ke sana jalan sendirian ngunci tu pintu. Hiiii… mending pura-pura ga liat. Ketiga, imajinasi gw lagi ga bersahabat, gw takut kalau ngarahin senter kesana tiba-tiba ada sesosok apa gitu yang tampak, di tambah petir-petir, angin, hujan, hiii.. gw liat jam, yahh baru semeniit.. waktu berasa lama banget. Saat itu adalah saat terhoror dalam hidup gw. Lebih takut ini daripada masuk rumah hantu. Yang ga tahan bunyi anginnya, bunyi gebrakan pintu, bunyi hujan yang makin deres. Itu suasana pas banget kalau si fredy and Jason dateng. Atau mungkin gw lebih takut tiba-tiba Hannibal lecter di depan gw.
Kadang gw ngedenger suara derap kaki lewat-lewat di depan. Cuman sangsi apakah itu cuma suara gebrakan pintu yang samar-samar. pernah suatu waktu, keadaan sunyi banget. Cuma kedengeran angin bertiup kecil nyaring. Ngerasa ada yang lewat di luar barak, tiba-tiba gw mengucap ‘Barak!’, pelan dan ragu namun berharap ada yang balas. Dalam hati gw bergumam, kenapa gw yang teriakin ‘Barak’nya. -_-. Saking desperatenya jaga piket, huhu.

Okey gw ga akan terlalu urut ceritanya. Sekarang gw ceritain tentang masalah piket malam di situ lembang. Ada yang bilang yang jaga piket harus ngitung jumlah orang di dalam barak tersebut. Mak!. Dan ngitungnya harus dipegang kakinya. Mengindikasi bahwa itu ‘real’ manusia. Hiii.. waktu malam keberapa entah bagaimana gw harus menghitung jumlah orang yang ada di barak gw. Waktu itu yang piket berdua. Jumlah orang yang seharusnya ada di barak gw adalah sekitar 76. Kondisi gelap gulita, gw nyalain senter dan ngarahin ke lantai ga berani kemana-mana. Jadi yang keliatan sama gw Cuma telapak-telapak kaki orang yang lagi pada tidur. Dan gw mulai ngitung dari pintu deket tempat tidur gw ke arah pintu ujung satunya. 

Udah hampir selesai ngitung. Gw ngitung dari kaki yang gw liat (ga gw pegang, males ah. Haha), ada 69 dan gw rencana mengira-ngira aja paling tinggal sisa 6 sampai 7 orang lagi (ada beberapa yang sakit tidak tidur di barak). Pas gw liat kaki-kaki selanjutnya. JENG!!... kenapa masih banyak banget 0-0. Sekitar belasan lah. Saat itu gw langsung matiin senter jalan cepet balik ke tempat tidur dan merem. Temen gw nanya, “berapa?” gw cuma bisa jawab “ehmm.. iya udah ada ko semua. Coba aja cek lagi”. Tapi temen gw tidak mengecek lagi dan kembali ke tempatnya. Mungkin aja itu bukan apa-apa. Mungkin mata gw meng’iya’kan penglihatan mistis tersebut, atau ada anak dari barak lain pindah-pindah (tapi ko banyak banget), atau yang lainnya. Yah, pokonya yang bikin serem itu karena abis cerita horror tersebut, gw langsung disuruh ngitung. Hahaha… jadi berasa pas banget momentum horornya.
[Read More...]


0 Character Building Atlet Prima di Markas Kopassus Batujajar (Part 4)





Part 4 (Ini dia Situ lembang)
Halo, maaf baru ngelanjutin part 4 nya. Dikarenakan berbagai kesibukan dan segala macam hal keren lainnya. Haha, lets go..

Yap, kegiatan-kegiatan di Batu jajar memang ga ada habisnya (seperti yang gw kisahkan di part 3 dan sebelumnya). Tapi kegiatan yang paling macho emang cuma di situ lembang. Begini ceritanya..
Rabu malam di minggu ke 2 kami di brifing bahwa agenda besok adalah berlatih dan pergi ke situ lembang. Horeee.. sebagian siswa kegirangan. Karena yang dimaksudkan ‘berlatih’ di sini adalah berlatih cabang olah raga masing-masing, bukan berlatih baris-berbaris, dan materi di ruangan yang cukup melelahkan. Malam hari setelah apel malam, sekitar jam 10 (bubar lebih cepat karena diberi waktu untuk bersiap hari esok) barak gw pada heboh apa aja yang harus dipersiapkan untuk ke situ lembang. Ada atlet yang ternyata tentara juga, sehingga dia ngasih segala macam tips. Selain tips-tips, ada juga ceita-cerita horror situ lembang, dan lain-lain. Pokonya semuanya excited kayak mau pergi piknik.


Besoknya setelah melakukan rutinitas pagi, kami dipecah sesuai cabor masing-masing. Untuk softball, kami kebagian di lapangan depan deket jalan raya. Lumanyun, ditonton masyarakat banyak. Haha.. latihan softball hari itu cukup seneng, ya gimana lagi udah lama banget ga pegang bola, dll. Lalu tidak terasa hari mulai siang. Kami pun makan siang dan kembali ke barak untuk bersiap.

Seperti yang sudah di duga, kalau yang nggak siap apa-apa dari malem, pasti kalang kabut deh. Waktunya sebentar banget. “Priiitttt..” dan semuanya harus segera kumpul langsung di lapangan hitam. Wow jauhh… temen-temen barak sudah pada keluar. Gw sama beberapa temen gw masih bimbang beberapa hal. Temen gw bimbang ember sama rapia dibawa atau nggak, dan gw bimbang selimut dibawa atau nggak, karena tas gw udah berat dan gw udah bawa jaket 2 plus sleeping bag yang tebel banget. “Priitttt…. Priiittt..!!” kami di dalam kamar saling bertatapan lalu lari meninggalkan kamar apa adanya. Dan yang pasti sangat berantakan. Setelah berkumpul di lapangan hitam, kita disuruh berbaris sesuai kelompok masing-masing. Gw ngeliat tas-tas siswa yang lain. Yang gw kira tas gw udah paling gede, ternyata banyak yang lebih besar lagi. Ada yang di luar tas dicantolon hanger, rapia, bahkan ember juga ada. Gw ngelirik temen gw yang tadi bimbang bawa ember apa nggak. “tuh, ember bisa pinjem die aja lah ya..”. temen gw mengangguk tanda sip!. Tiba-tiba pak Haryono berteriak “Kalian sudah membawa semua peralatan?!”, “Sudaahhh….” Jawab kami seperti anak TK mendayu. “yang tegas!” “Siap! Sudah!” ulang kami. “Kalian sudah bawa selimut?!”, ada yang jawab belum ada yang jawab  sudah. “Yang belum ambil!! Cepat!! 1..2…3..” dannn kami pun berlarian. Termasuk gw. Kenapa gw ikutan lari? Padahal kalau ga ketauan juga gapapa. Namun apa daya, saat itu gw berfikir di dalam selimut itu ada chip yang ketauan kalau nggak keangkut. Beuhh…..


Kami pun berangkat pake truk tentara sesuai urutan pleton dan barisan. Gw di truk sama sebagian kelompok gw dan sebagian kelompok sebelah. Cukup seru orang-orangnya. Sebelum berangkat truk kami di gedor agar bernyanyi mars-mars yang telah diajarkan. Dan mulailah perjalanan menuju situ lembang. Di jalan memang seperti piknik anak smp. Setiap berpapasan dengan truk kelompok lain, saling menyapa dan meledek riuh ramai. Namun tiba-tiba kembali bernyanyi mars, saat motor pelatih menengahi kita. Setiap ingin tidur, truk di gedor dari tempat supir. Akhh.. pokonya kerjaan di truk itu tidur, nyanyi, curhat, tidur, nyayi curhat, sampai semuanya tidur. Hahaha… lalu saking bosannya, saat pelatih meneriakkan untuk bernyanyi, kami langsung berdendang lagu dangdut. Terserah mau dimarahin atau tidak. Kita udah capek.. haha

Truk sudah memasuki kawasan hutan lembang. Kebanyakan dari kami tertidur karena suasananya sejuk dan saat itu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Truk berhenti dan langsung digedor menyuruh seluruh siswa keluar dan berbaris. Mereka bilang truknya nggak bisa nanjak lagi, dan harus dilanjutkan dengan berjalan. Kami pun berbaris. Karena jalannya tidak cukup lebar, kami berbaris sangat memanjang. Dan plang yang kami temui pertama adalah “ANDA RAGU, KEMBALI SEKARANG JUGA” . yak seperti biasa. Pelatih di sana menjelaskan tentang hutan lembang, bahaya-bahayanya saat malam hari dan banyak lagi. Pokonya menegaskan bahwa hutan lembang adalah bukan hutan untuk berwisata, jadi jangan kemana-mana sendirian. Dan mereka juga bilang bahwa di sana adalah tempat para kopassus berlatih seperti meriam, taktik gerilya, dll. jadi awas kena meriam nyasar, katanya. Belum selesai kami memahami semua perkataan pelatih, “DUAARR….DUAARRR..JGEEERR!!!”  kami semua panik dan sedikit menunduk, gw yakin ini pasti trik dari pelatih lagi buat nakut-nakutin kita. Tapi gw liat mimik semua pelatih juga terlihat panik. Mereka panik sambil menunduk berlari kecil sembari berkomunikasi lewat HT nya. Seperti terjadi suatu kesalahan atau sejenisnya. Dalam hati gw mikir ‘gila masa mereka lupa kalau sekarang jadwal hutan dipake buat siswa prima!?’.  “TIARAP!!” ujar seorang pelatih.. kami semua kebingungan sambil berhadapan.  “TIARAP!” dan tanpa ba bi bu kami semu tiarap. Gw langsung nyusruk ke tanah lembek yang basah, gw liat sekitar, ternyata cuma di tempat gw. Apes. Yang lain pada nikmat nyusuruknya ke rumput. Setelah beberapa saat kami pun disuruh berdiri. Daaaannn… ternyata meriam tadi adalah salah satu trik mereka. Ucapan selamat datang katanya. Dan semuanya juga sandiwara. Beuhh… mantap pa ektingnya. Ya abis, kalau pelatih aja panik, kita harus gimane, keserempet meriam kan lumanyun juga pak. -_-


“makanya, sekarang kalau ada peluti berbunyi, kalian harus segera tiarap. Mengantisipasi kejadian seperti tadi” ujar pelatih. Kami mulai berbaris kembali. Berbaris 4 banjar. 2 banjar di sisi kiri jalan, 2 banjar di sisi kanan jalan.  Sehingga saat peluit berbunyi, kami semua diving nyusruk ke sisi jalan seperti domino. Rapih sekali. Hahaha. Dan, emang gw yang selalu apes. Peluit pertama, gw nyusruk di rumput, adem, tapi hampir ke jurang. Gw loncat terlalu semangat, ternyata jauh banget hampir di ujung tebing yang ketutupan ilalang. Fuhhh… kedua gw nyusruk di batu kerikil yang entah mengapa Cuma ada di tempat gw nyusruk. Yang terakhir gw nyusruk bener-bener di lumpur basah. Setelah berbaris kembali temen depan gw nanya. “abis dari mana kotor banget hahaha”, gw Cuma nyengir males.

Kami dihadapkan ke situ lembang yang tenang dan indah. Emang super indah banget di sana. Airnya tenang dan bersih. Gw termasuk beruntung karena gw adalah di kelompok banjar paling depan. Dan cewek sendiri. Emang sengaja sih pengen paling depan. Biar apa-apa duluan. “gimana kalau kalian nyemplung sini”, ujar pelatih tiba-tiba. Gile pak, bercandanya jangan sekarang. Soalnya hari sudah mulai gelap dan angin dingin sudah mulai berhembus. Brr.. semuanya kedinginan. Kita Cuma nyegir tanda ogah nyebur. “Gapapa airnya anget ko, tuh mesin penghangatnya”, ujar salah satu pelatih sembari menunjuk mesin yang invisible. Dan kami pun kembali nyengir ogah nyemplung. Setelah beberapa menit menikmati suasana situ lembang sambil menunggu kelompok lain datang. “Yak! Lepaskan semua perhiasan kalian, termasuk jam tangan dan lainnya”, “hah?!” ucapan ‘hah’ ini keluar begitu saja dari mulut gw. Karena biasanya gw ‘hah’ dalam hati (oke abaikan). Ternyata mereka serius mau nyemplungin kita ke situ lembang. Huhu T_T.





Dan akhirnya kita nyemplung di dinginnya situ lembang (bukan di danaunya persis. tapi di semacam kolam di sebelah danaunya banget. semacam kolam aliran dari situ nya). Masuk kaki pertama, ditarik lagi. Begitu terus, semuanya takut2 nyemplung dan Cuma icip-icip air. Sampai suatu waktu pelatih teriak memberi komando untuk membenamkan seluruh badan di dalam air. Byurr… “woaaa..” para siswa berteriak riuh, sana-sini. Ada yang ngedumel, ada yang cuma bilang dingin-dingin, ada yang,,, well, paling banyak ngedumel sih. Setelah beres nyemplung, semuanya disuruh naik dan segera melanjutkan perjalanan menuju barak. Basah-basahan dan angina-anginan. Ga ada yang oke deh pokonya sore itu. Ga ada yang bisa diambil hikmahnya. Oke , mungkin hikmahnya ada. If you think it’s getting easy, it doesn’t at all. Hhh..

Beberapa menit kami berjalan, ternyata truk yang kami tumpangi sudah sampai duluan. Apanya yang ga bisa nanjak -_-. Kami disuruh ambil tas dan perlengkapan masing-masing lalu menuju barak. Dari tempat parkir truk ke barak, tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Seperti dari FX mall ke Sency lah. Tapi malam sudah mulai menghembuskan anginnya. Pakaian basah yang kami pakai benar-benar mengganggu. Ingin rasanya cepet-cepet ganti baju. Tapi tidak kata pelatih, kami ditahan perisis di depan barak untuk pembagian kamar. Ada beberapa dari kami yang wajahnya sudah pucat dan mulutnya biru. Dan apa yang gw lakukan untuk menghalau dingin? Gw bergerak, loncat-loncat, menderapkan kaki, dll. dalam kondisi kayak gitu sakitnya kaki pake pdl udah ga kerasa. Semua rasa sakit jadi satu, malah jadi ga kerasa apa-apa.
 
Segini dl yang di post. Lanjutannya ada, Cuma biar enak bacanya aja. Ga disekaligusin
[Read More...]


Powered by Blogger.

Followers

 
copyright @ 2011-2014 furky.net
Return to top of page Copyright © 2010 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by HackTutors